Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengambil peran sebagai “penjaga gawang” layanan kesehatan masyarakat dengan mendesak penguatan regulasi terkait Pengendalian Konsumsi zat adiktif. Ancaman kesehatan masyarakat dari rokok, minuman beralkohol, dan narkotika terus meningkat, menyebabkan beban biaya kesehatan yang besar. IDI menyadari bahwa upaya kuratif saja tidak cukup; pencegahan dan pembatasan akses menjadi kunci utama untuk masa depan bangsa.
IDI menekankan bahwa Pengendalian Konsumsi tembakau, khususnya rokok, harus menjadi prioritas nasional. Data menunjukkan tembakau adalah salah satu penyebab utama penyakit tidak menular (PTM), seperti penyakit jantung dan kanker. Mendorong kenaikan cukai yang lebih tinggi, memperluas kawasan tanpa rokok, dan melarang iklan produk tembakau adalah langkah konkret yang dapat diambil pemerintah untuk melindungi generasi muda.
Selain tembakau, Pengendalian Konsumsi minuman beralkohol juga memerlukan perhatian serius. Konsumsi alkohol berlebihan berkaitan erat dengan gangguan hati, kecelakaan lalu lintas, dan masalah sosial-kriminalitas. IDI mendesak pengetatan regulasi peredaran dan penjualan minuman beralkohol, terutama kepada remaja. Program edukasi tentang bahaya alkohol harus diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan nasional.
Peran dokter dalam Pengendalian Konsumsi zat adiktif sangat penting. Dokter adalah garda terdepan dalam mendeteksi dan memberikan intervensi dini kepada individu yang mulai kecanduan. IDI mendorong peningkatan kapasitas dokter umum dan spesialis dalam menangani masalah adiksi, termasuk pelatihan konseling dan rujukan ke fasilitas rehabilitasi. Pendekatan holistik yang menggabungkan medis dan psikososial diperlukan.
IDI juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih baik antara Kementerian Kesehatan, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan instansi penegak hukum. Strategi Pengendalian Konsumsi yang efektif membutuhkan kampanye kesadaran publik yang berkelanjutan, didukung oleh penegakan hukum yang tegas terhadap peredaran zat adiktif ilegal. Sinergi lintas sektor ini akan memperkuat upaya preventif negara.
Dari sudut pandang ekonomi, penguatan Pengendalian Konsumsi zat adiktif merupakan investasi jangka panjang. Meskipun ada penolakan dari industri, manfaat kesehatan dan sosial yang diperoleh jauh melampaui kerugian pendapatan. Dengan mengurangi jumlah perokok dan pecandu, beban klaim Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dapat ditekan, mengalihkan dana untuk peningkatan layanan lain.
IDI percaya bahwa pendidikan adalah senjata terkuat. Kurikulum kesehatan sejak sekolah dasar harus mencakup informasi akurat tentang bahaya zat adiktif dan strategi menghindari tekanan sebaya. Pengendalian Konsumsi dimulai dari kesadaran individu. Membekali anak dengan pengetahuan yang cukup adalah langkah preventif terbaik bagi masa depan mereka.
Secara keseluruhan, dorongan IDI untuk penguatan Pengendalian Konsumsi zat adiktif merupakan panggilan untuk tindakan tegas oleh pemerintah dan masyarakat. Sudah waktunya Indonesia memandang zat adiktif bukan hanya sebagai masalah gaya hidup, tetapi sebagai ancaman serius terhadap pembangunan sumber daya manusia. Aksi nyata sekarang akan menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang.
