Kusta (Leprosy), disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, adalah Penyakit Kuno yang telah dicatat dalam sejarah peradaban selama ribuan tahun. Meskipun ada persepsi umum bahwa penyakit ini telah hilang, Kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di lebih dari 120 negara, terutama di Asia dan Afrika. Statusnya sebagai Penyakit Kuno dan stigma sosial yang melekat seringkali menghambat upaya deteksi dini dan pengobatan, memungkinkan penularan diam-diam terus berlanjut di komunitas rentan.
Meskipun Kusta menular melalui droplet pernapasan dari kontak yang lama dan erat, ia memiliki masa inkubasi yang sangat panjang—rata-rata lima hingga sepuluh tahun. Inilah yang membuat Mencegah Kekambuhan dan penularan sulit. Gejala awal seringkali berupa bercak kulit yang mati rasa atau lesi saraf yang halus, mudah diabaikan oleh pasien dan petugas kesehatan. Keterlambatan diagnosis ini memungkinkan kerusakan saraf permanen dan disabilitas yang melumpuhkan, termasuk kebutaan dan hilangnya jari-jari tangan atau kaki.
Kemajuan signifikan telah dicapai dengan adanya Terapi Multidrug (MDT) yang dikembangkan pada tahun 1980-an. MDT, kombinasi dari antibiotik Rifampisin, Dapson, dan Klofazimin, sangat efektif dalam membunuh bakteri dan menyembuhkan penyakit dalam waktu 6 hingga 12 bulan. Sejak diperkenalkan, MDT telah menyembuhkan jutaan orang, mengubah Kusta dari penyakit yang tidak tersembuhkan menjadi penyakit yang dapat diobati. Namun, penyembuhan klinis tidak berarti akhir dari tantangan.
Meskipun dapat disembuhkan, Penyakit Kuno ini masih menyisakan warisan berupa stigma sosial yang mendalam. Ketakutan irasional masyarakat terhadap Kusta membuat penderitanya diasingkan, seringkali kehilangan pekerjaan dan dukungan keluarga. Stigma inilah yang menjadi penghalang terbesar dalam upaya eliminasi, karena orang takut untuk mencari pengobatan meskipun merasakan gejala. Stigma memicu penyembunyian kasus dan menjaga rantai penularan tetap utuh.
Penyakit Kuno ini tetap menjadi ancaman global karena deteksi kasus baru yang stabil di beberapa negara endemik, termasuk India, Brasil, dan Indonesia. Ini menunjukkan bahwa transmisi masih aktif. Program pengawasan harus ditingkatkan, terutama di komunitas yang padat dan minim akses kesehatan. Intervensi Pediatrik juga krusial, karena penemuan kasus baru pada anak mengindikasikan adanya penularan yang sedang berlangsung di lingkungan rumah atau sekolah.
Untuk mencapai eliminasi global, fokus harus bergeser dari sekadar pengobatan kasus menjadi pencegahan. Ini termasuk pemberian profilaksis (obat pencegahan) kepada kontak dekat pasien Kusta untuk memutus rantai penularan. Upaya Memperkuat Ketahanan komunitas melalui edukasi kesehatan dan integrasi program Kusta ke dalam layanan kesehatan primer juga harus digalakkan.
